First Time Besih2in Kos
Pertama kali aku pindah kos, disini tu rasanya ngeneeeeessss banget. Satu perbedaan besar ngekos anatara Surabaya – Denpasar adalah : Kos disini kosongan. I mean, bener- bener kosong melompong. Itu berarti juga, tanpa kasur, tanpa strika, tanpa lampu, tanpa nasi/ majig jar, tanpa sprei. Dan itu brati semuanya mesti beli lagi dari nol.
Coba deh yang tinggal di Surabaya, kos disana (kebanyakan) sudah ada kasur dan lemari. Jadi gak kebingungan mesti beli kasur+bantal+guling+sprei. Gak bingung mesti beli rice cooker, karena biasanya kos2an deket kampus sudah termasuk nasi putih, cuci dan setrika. Ketika pertama kali ngekos/ngemess, aku bingung. Karena nggak ada timba/ember, sikat baju/sikat WC. Sementara kamar mandinya kotor banget. Otomatis mesti beli pembersih porselen dan bahkan harus punya pel sendiri. -_-‘’ Untung masih dibantu mamanya sherly ember, sikat baju, dan kain lap. Jd gak terlalu menderita sampe segimananya gitu… masih ada orang yang berbaik hati nyumbang kasur. Walau kasur busa/spon, tapi aku mengucap syukur.
Hitam hitam dan hitam
Di bali, 1 hal yang bikin beda, adalah cuacanya sejuk/ ga sepanas dan seterik Surabaya. Tapi…. (ada tapinya nih) entah kenapa di Bali itu bikin item kulit! Airnya sejuk (baca : dingin) jd aku membiasakan diri mandi dengan air yang mirip air es. Pertamanya sih kejet2 tapi akhirnya terbiasa. Trus… kalo di Surabaya, nyuci baju dan ngeringin, karena terik, 1 hari paling kering. Tapi disini, 3 hari tuh baju gak kering2. meski akhirnya kulitku yang hitam. Padahal aku kerja yah gak ngapa2in palingan di ruangan ber AC, api ndak tau kenapaaaaa , kok tiba2 kulitku jadi hitam.
Nah, mengenai hitam sekarang aku punya cerita. Suatu hari aku mampir ke kos2an temenku. Temen kosnya menyapaku.
Trus tiba2 dia bertanya: “boru apa dikau?” Pas itu aku masih gak ngeh dia tanya apa.
Dan otomatis aku tanya lagi sambil pasang muka melongo: “hah? Apa?”.
Dan dia mengulangi pertanyaan yang sama :”boru, boru apa dikau?” Lalu buru2 temanku datang menyelamatkanku dan menjawab: “abang, dia ini orang Surabaya. Kau lihatlah bahasa jawanya medhok banget. Masa kau kira dia orang batak?”
“hah? Apa kau tak ada bataknya sedikit2pun? Pasti kan ada campurannya?”
Well, kisah diatas aku simpan dalam hati. Tapi selang beberapa hari, ada Yenny, temen dekatku ,mengatakan bahwa beberapa orang menanyakan suku/rasku kepada dia. Karena beberapa orang itu menyangka aku berasal dari suku batak. Termasuk beberapa penatua gereja.
Aku sampek bener2 ngaca sodara2, apa yaaaaaaaa yang menyebabkan orang2 bilang aku ini ada bataknya. Batak dari mana ya? Bali tanah perjanjian Tapi disini satu hal yang pasti aku di pulihkan benar2. satu persatu namun perlahan aku di gosok kanan kiri. Aku yakin akan satu hal, bahwa disini aku akan dipulihkan. Amin